Tuesday, 1 November 2011

Creep in plastic packaging

Plastic packaging often have to withstand load over long period of time. Therefore, it is required to investigate  creep behaviour of  material, i.e the time dependent deformation.

Wednesday, 26 October 2011

Saat anak mulai membantah

Pagi hari
Ummi: Kakak, mandi dulu, sudah jam 7.30!
Kakak: Aku mandinya nanti sore aja mi, pulang sekolah

Sorenya
U: Kakak, ayo mandi, udah mau sholat maghrib
K: Besok aja ya mi, dingin......

Akhir-akhir ini, beberapa kali kakak tidak menuruti apa yang ummi minta. Jawaban yang sering muncul adalah, later atau after atau ntar.......
Kadang ummi jadi emosi, mengulang perintah itu dengan keras. Ujung-ujungnya si kakak malah menangis, ummi, why did you shout at me?

Astaghfirullah, maafkan ummi nak. Ya Allah, nyuwun kesabaran......

Ternyata, ada beberapa sumber yang mengatakan adanya perubahan perilaku anak saat memasuki usia 8 tahun. Mereka sedang berkembang memasuki tahap tujuh tahun kedua, saat anak mulai beranjak remaja. Saat usia ini, mereka sedang menunjukkan identitas diri, mulai merasa terkekang dengan aturan orang tua karena merasa aku sudah 'dewasa'.

Saat memasuki tahap ini, one way communication sudah tidak berlaku lagi. Mereka harus diperlakukan secara lebih dewasa dengan mengajak lebih banyak diskusi. Istilahnya, tarik ulur, ada saat mereka dimintai pendapat, namun ada saatnya orang tua memberi batas.
So, next action for tomorrow, tanyakan kapan dia mau mandi, pagi atau sore**, jam berapa. Kasih konsekuensi jika dia tidak segera mandi saat waktunya tiba. Misal: jam 8 malem baru mandi, pas maghrib, siapin sikat gigi sendiri, ketinggalan jamaah maghrib. Kalo ga mandi, besok pagi bangun jam 6 untuk mandi (hiks, selain masih gelap, dingin banget).
Ummi harus sabar, tidak boleh berkata keras atau marah. Kalau kakak ga mau, ummi diam aja. Kasih dia kepercayaan, Insha Allah pasti bisa


Catatan:
** Gaya mandi orang bule: sekali sehari, selain irit air, juga dingin banget....

Saturday, 8 October 2011

Belajar saat sakit (part 2)

Alhamdulillah, Shofiya mulai menjalani hari-hari dengan plaster di lengannya. Dia mulai belajar menggunakan tangan kirinya untuk beraktivitas, termasuk makan.

Saat makan bersama sore tadi,
Shofiya (S) : Mum, I dont like to have broken arm.
Mum (M) : Ya sayang, kadang Allah memberikan apa yang tidak kita sukai, padahal itu yang paling baik untuk kita
S : Why Allah give me this?
M : (tercekat), because Allah loves us, darling

Aku terdiam cukup lama, memikirkan jawaban yang mungkin sangat absurd untuk otak 5 tahunnya, bagaimana menerjemahkan konsep cinta dalam kesakitan. Aku sendiri belum menemukan jawaban yang tepat untuk aku mengerti sendiri.

Nasihat seorang sahabat mengingatkanku untuk menjadikan sakit ini sebagai tempaan kesabaran, seperti kisah dakwah awal Rasulullah yang penuh luka dan cacian.

Sadarkah kau nak, bahwa dengan sakitmu ini, kita sekeluarga menjadi lebih saling menyayangi. Lebih mudah bagimu menerima untuk selalu berdoa, mengakui Allah sebagai sebaik-baik penjaga. Lihatlah, nak, betapa indah silaturahim dengan saudara-saudara di kampung yang begitu jauh dari tanah air. Beruntungnya dirimu yang disayangi banyak orang. Ingatkah engkau nak, saat menyaksikan teman-temanmu yang sakit di hospital, dengan kondisimu yang jauh lebih baik. Betapa bersyukurnya atas semua nikmat yang sudah kita terima menyaksikan anak-anak yang seumur hidupnya harus bergerak di atas kursi rodanya. Kalian bisa kapan saja naik ayunan, tapi mereka mungkin harus ke park di RCH ini untuk merasakan nikmatnya berayun di atas wheel chair.


Allah pasti kasih adik hadiah yang menyenangkan karena adik berani dan sabar. Di akhirat, tangan adik yang broken ini akan bersaksi, Ya Allah, tangan ini pernah terluka tapi pemiliknya selalu beristighfar saat terasa sakit. Adik, Insha Allah tangan ini yang mengantarkan adik ke surga. Shofiya sudah mulai senyum-senyum trus nanya, di surga ada banyak mainan ya? Ada jumping castle? Ada ayunan?


Subhanallah, terima kasih Allah untuk pelajaran saat sakit ini...... Ya Allah, jadikan kami hamba-hamba yang pandai bersyukur.....


Brunswick, mid of spring 2011

Wednesday, 5 October 2011

You are very brave


Kalimat itu hampir selalu dikatakan siapapun yang sedang merawat Shofiya, dari Senin sampai Rabu kemarin. Mulai dari seorang dokter yang kebetulan anaknya adalah teman Shofiya di sekolah, petugas dari ambulance, nurse di triage-emergency area, di X-Ray, dokter di operation room, di recovery room dan di ward. Dan itu disampaikan berulang-ulang. Bahkan, nurse di recovery room memberikan award for bravery in hospital. Sebenarnya sederhana saja, print di A4, hitam putih, dihiasi stiker dora.

Senin kemarin, gadis kecil saya jatuh di sekolahnya. Lengannya patah. Alhamdulillah, malamnya langsung dioperasi dan Rabu kemarin sudah kembali berkumpul di rumah. Tadi malam dia bilang, my parents really proud of me, because I am so brave.

Di tengah rasa sakit yang saat ini dirasakannya, Alhamdulillah dia menyimpan kenangan bahwa dia seorang pemberani. Kembang kempis hidungnya saat dia mendengar, “adik hebat, persis kayak aunty Shofiya yang pemberani”. 

Tuesday, 4 October 2011

Belajar saat sakit

Sore itu, 3 Oktober 2011, sebuah panggilan masuk ke hape suamiku. Ekspresinya langsung berubah sesaat setelah dia mulai bicara. Ternyata carer anakku di Kinder mengabarkan Shofiya got an accident. Ada dislokasi, katanya. Panik, tentunya, apalagi ditambah suara tangisnya yang terdengar. Taksi menjadi pilihan kami saat itu, mengingat perjalanan naik tram 8 dari Flinders St station saat jam pulang kantor begini bakalan memakan waktu cukup lama. Di tengah perjalanan, carer kembali menelpon, meminta persetujuan memanggil ambulance. Ya Allah, seberapa parah anakku ini.......

Alhamdulillah, sepuluh menit kemudian kami tiba di Kinder. Shofiya sudah mulai tenang dengan tangannya bersandar pada sofa kecil di book corner. Carer-nya sudah memberikan pertolongan pertama dengan memberikan kompres air dingin dan menjaga agar tangannya tidak bergerak. I just want mommy, kata anakku. Shofiya juga tidak diijinkan minum atau makan apapun sejak dia jatuh. Anakku yang selalu aktif ini meminta temannya mendorong saat mereka berdiri di balance beam setinggi 50 cm. Qadarullah, dia jatuh dengan posisi tangan menahan tubuhnya. Kebetulan, seorang ibu yang akan menjemput anakknya di Kinder itu adalah seorang dokter. Dia menyatakan indikasi broken bone di lengan kanan. You are very brave, katanya pada Shofiya, sambil mengusapkan kompres.

Tak lama paramedic dari ambulance datang dan langsung membalut lengan shofiya dengan triangular bandage. You are very brave, kata mereka, sambil memberikan sebuah pipa hisap, mungkin berisi analgetik saat Shofiya meringis kesakitan. Tangisnya sudah mulai mereda.....

Pengalaman pertama kami naik ambulance di Melbourne berakhir di Royal Children Hospital. Shofiya langsung ditangani seorang dokter yang keheranan saat melihat saya menyempatkan sholat Asar di samping ranjang. Hasil rontgen-nya cukup parah, sehingga harus segera dioperasi secepatnya. Kata dokter, ada bagian syaraf yang injured karena tulang yang patah itu. Akibatnya, jari-jari tangannya tidak bisa merasakan rangsangan. Ya Allah, paringi kesembuhan untuk anakku....

3 Oktober 2011, 20.45 GMT+10...... anakku dibawa ke ruang operasi. Dokter anestesi menjelaskan resiko bius yang mungkin terjadi. Kemudian dia memintaku ikut masuk ke ruang operasi membantu supaya Shofiya cepat tertidur. Ummi bacakan kisah rasulullah dengan pengemis Yahudi buta saat itu, dan tak berapa lama, matanya terpejam. You did your job well, kata si Dokter.

Waktu rasanya berjalan sangat lambat saat menunggu operasi. Tangis tertumpah dalam doa kami saat Sholat magrib di ruang tunggu. Sms, telepon dan kunjungan sahabat memberi support yang tak terhingga.
22.30, akhirnya panggilan untuk Shofiya parents terdengar juga. Anak itu sedang terlelap di ranjang saat kami datang. Nurse mengusap rambutnya hingga akhirnya dia terbangun dan langsung tersenyum melihat kedatangan kami. Sebuah piagam for bravery at hospital diberikan untuk Shofiya.....

Lengan kanan gadis kecilku harus di-plaster untuk sementara waktu. Insha Allah will be better soon, ya sayang.....


RCH, Melbourne, 3rd floor
4 Okt 2011

Tuesday, 14 June 2011

Book Review: The other side of Israel


Buku yang saya pinjam dari Coburg Library ini ditulis seorang wanita Yahudi, Susan Nathan, menceritakan pengalamannya tinggal di Tamra, Israel. Susan, 50 tahun, meninggalkan rumah, keluarga dan pekerjaannya sebagai konselor AIDS di London untuk menjadi warga negara Israel. Sebagai seorang Yahudi, Susan mendapatkan kemudahan untuk menjadi WN Israel, tanpa biaya visa, tanpa tes, penerbangan kelas satu dan training gratis sesampainya di Tel Aviv.
Gambar diambil dari sini

Dia menerima tawaran kerja di Tamra, satu wilayah yang dikenal sebagai pemukiman Arab. Orang Israel menyebut penduduk asli Palestina sebagai Arab Israel untuk mengikis ikatan hubungan warga negara Israel keturunan Palestina dengan asal usulnya. Hampir semua teman Yahudi Susan menyesalkan keputusannya pindah ke Tamra dan menyatakan kekhawatiran mereka akan keselamatan Susan sebagai satu-satunya Yahudi di perkampungan Arab.
Hampir tidak ada petunjuk jalan menuju Tamra, kota yang terlihat kumuh jika dibandingkan kota-kota lain di Israel. Interaksinya yang cukup dekat dengan keluarga barunya di Tamra membuka kesadaran Susan tentang fakta diskriminasi di Israel mirip dengan yang pernah dilihatnya di Afrika Selatan, tempat lahirnya dan cerita ayahnya tentang penindasan Yahudi oleh Nazi.
Di buku ini Susan menjelaskan berdirinya negara Israel di tahun 1948 di atas tanah Palestina. Tentara Israel mengusir penduduk Palestina dari rumah-rumah mereka dan mengakuisi kepemilikan atas tanah, kebun bahkan tabungan di bank. Kemudian didatangkanlah orang-orang Yahudi dari seluruh penjuru dunia untuk menempati rumah-rumah itu.

Thursday, 2 June 2011

Visiting an opthamologist


Sudah hampir sebulanan ini kakak kedip-kedip terus, very frequent blinking. Walaupun sudah berkali-kali diingetin ga berhenti juga blink-nya. Disentuh, bahkan pernah dipukul. Aduh, maaf ya kakak. Ummi pikir terapi kejut bisa menghentikan itu. Kata kakak, kadang sadar saat blink dan berusaha berhenti.
Kemudian ummi mulai googling dan so surprise dengan temuan di internet. Bahwa blink too much bisa jadi indikasi tic disorder, suatu jenis mental health yang belum diketahui dg jelas penyebabnya. Selain blink, penderita biasanya melakukan gerakan aneh lain yang tidak terkontrol, spt menggerakan bahu, wajah atau kepala dan kadang mengeluarkan suara aneh. Mau nangis rasanya membaca bahwa paksaan untuk berhenti dari gerakan aneh itu malah akan menyebabkan stress pada penderita. Banyak penderita yang dikucilkan dari lingkungan sosialnya karena dianggap berperilaku aneh. Hingga akhirnya nemu kisah nyata Brad Cohen yang difilmkan dengan judul Front of the Class. Ummi ajak kakak nonton gimana Brad diketawain teman2 sekelasnya hingga akhirnya menjadi guru elementary school yang disayangi murid2nya. Kami berdiskusi banyak setelah itu, bukan untuk menakuti2i bahwa dia bisa jadi seperti Brad kalo ga berhenti blink. Tapi untuk menunjukkan bahwa ada anak yang berbeda karena takdir Allah. Pasti sedih jika diperlakukan buruk karena sesuatu yang di luar kemauannnya.
Akhirnya, ummi ajak kakak ke dokter. Tidak seperti di Indo, di Ausi mau ketemu dokter harus janjian dulu. He2, enaknya waktu di wonogiri, tinggal telpon Mama dan langsung ketemu dokter tanpa antri. Alhamdulillah 1 minggu kemudian bisa ketemu dokter Louisa. Cantik dan ramah. Dia dengarkan baik-baik keluhan kakak. Ummi langsung bilang kekhawatiran soal tics. Tapi Louisa bilang mau diobservasi dulu physically. Kakak dapat tetes mata, supaya matanya ga kering. Setelah 2 minggu, kami lihat blink kakak blm berkurang. Malah sekarang diikuti gerakan pipi  dan mulut. Louisa juga melihat mata kakak masih merah. Tanpa banyak observasi sperti sebelumnya, kali ini Louisa langsung tulis surat rekomendasi utk ketemu dokter spesialis mata anak. Dia bantu nyariin alamatnya di googlemaps, nunjukin alternatif public transport dari brunswick dan hawthorn. Appointment untuk dokter spesialis ini mengejutkan, 31 Mei. Itu artinya hampir 2 bulan kami baru bisa ketemu dokter. Apa jumlah dokter tuh sedikit po, kok susah amat mau ketemu aja. Tapi baca surat pemberitahuan yg dikirim sehari sesudahnya, dia alokasikan waktu 1.5 jam per pasien. Pantes, jumlah yang bisa ditangani dalam sehari jadi sedikit. Tapi biaya konsultasinya juga fantastis, $200, belum termasuk pemeriksaan tambahan.   Hari ini ummi antar kakak konsultasi ke dokter wendy di Malvern. Cukup jauh juga dari Brunswick. Kami naik Glenwaverley line dari Flinders St Station dan turun di Tooronga. Seperti di Swin Health Center, ruang tunggunya dilengkapi kids corner dengan beberapa jenis mainan dan satu TV yang menayangkan film anak. Tak lama menunggu seorang dokter memanggil dan mengajak masuk ke ruang periksa. She introduced herself as opthamologist and will take early examination before dr wendy's. Salah satu pemeriksaannya adalah tes baca huruf, setiap Qoni bisa membaca dengan benar, selalu terucap great girl, good job, excellent, dll. Begitu juga saat Qoni mengikuti instruksinya menggerakkan mata atau menurut saat diteteskan eye drop.
Hampir setengah jam setelah pemeriksaan awal selesai baru dokter Wendy memanggil. Wanita ini berusia kurang lebih 40 tahun dengan rambut dicat merah. Sambil menyiapkan alat2 periksanya, dia mengajak Qoni ngobrol. Nanyain umur, sister, siapa guru favoritnya, klo istilah Qoni fat question. It s mean not a boring one like what s your name, and also not yes/no question. Kemudian dia baru menjelaskan hasil observasinya. Physically, the eyes are excellent. The blink just habit and will be disappear in months, but it is far from TIC symptoms. Just pretend it s not there. Alhamdulillah, seneng ummi.