Mendengar cerita seorang teman saat memasuki masa menyapih balita-nya yang menginjak usia 2 tahun, saya jadi teringat cerita yang sama pernah saya hadapi dengan Qoni dan Shofi.
Qoni, saat ini 9 tahun, mulai saya ajak ngobrol untuk berhenti minum ASI saat berusia 2 tahun kurang 2 bulan. Beberapa kali saya katakan bahwa dia sudah besar, ga perlu minum ASI lagi. Saat siang hari, cukup mudah buat dia lepas dari ASI karena dia mulai sibuk main. Tapi saat malam, ritual bersama ASI adalah pengantar tidurnya. Saya tidak ingin menjadikan masa menyapih ini sebagai pengalaman buruk buat Qoni, penuh kebohongan, termasuk juga tradisi suwuk yang masih banyak dipakai ibu-ibu tetangga saya. Jadi, saya usahakan mengalihkan minum ASI dengan hal lain sebelum tidurnya. Setelah doa, saya siapkan untuknya 1-2 buku untuk dibaca. Alhamdulillah, dia enjoy dengan aktivitas membaca ini, dan sukses lah ikhtiar saya menyapih Qoni. Tanpa kekerasan, cukup dialog saja :)
Shofi, anak kedua yang lahir hampir setahun setelah masa menyusui Qoni berakhir, punya cerita berbeda. Berbekal pengalaman kesuksesan dengan kakaknya, saya coba juga membacakan buku untuknya. Ah, tapi anak ini memang berbeda. Shofi punya bonding yang lebih kuat dengan saya dibanding Qoni. Dikit-dikit ummindah, aci..... Semalam aja saya tinggal workshop di Ungaran, tangisnya membuat seisi rumah tidak tidur. Saat sudah ngantuk berat, satu buku dibacakan dia langsung terlelap. Tapi tak lama kemudian, tidurnya jadi gelisah. Mencari-cari tubuh saya untuk minta dikeloni, kemudian nangis, ummi aci... Yah, akhirnya saya menyerah memberikannya ASI juga, daripada ga bisa tidur karena dengar suara tangisnya. Parahnya, idealisme untuk tidak berbohong saat menyapih ini harus luntur karena saya ga tahan untuk segera menuntaskan program menyapih. Setelah 2 minggu berusaha dengan cara membaca ga berhasil, odol menjadi solusi. Dua kali saya oleskan odel di puting, dan Shofi langsung ga mau ASI lagi. Aci udes katanya......
Insha Allah, kalo diparingi lagi amanah menyusui, mau berusaha lebih baik. Harus siapkan banyak alternatif saat menyapih tiba. No more odol.......
Wednesday, 8 February 2012
Wednesday, 7 December 2011
Hujan
Membaca status facebook tentang hujan, merutuki hujan yang turun di pagi hari. Bukankah hujan itu rahmat, yang menumbuhkan padang gersang menjadi hijau. Mengapa harus dikeluhkan?
Memang, bukan hal yang mudah mulai beraktivitas dengan menembus hujan. Saya harus mengeluarkan energi ekstra juga saat hujan tiba. Bukan untuk energi gerak untuk berlari, atau energi panas untuk menghalau dingin yang menerpa. Tapi energi kesabaran untuk membujuk agar si kakak mau pakai raincoatnya....
Ayolah, hadapi saja hujan itu dengan senyuman, plus payung, sepatu boot, jas hujan, dobel jaket... Allahumma shayyiban naafi'an..... Smoga hujan ini membawa manfaat. Termasuk hadiah istimewa untuk langkah kaki yang menapaki bumi yang basah dengan penuh syukur..
Brunswick, menjelang duedate JAPS paper
Memang, bukan hal yang mudah mulai beraktivitas dengan menembus hujan. Saya harus mengeluarkan energi ekstra juga saat hujan tiba. Bukan untuk energi gerak untuk berlari, atau energi panas untuk menghalau dingin yang menerpa. Tapi energi kesabaran untuk membujuk agar si kakak mau pakai raincoatnya....
Ayolah, hadapi saja hujan itu dengan senyuman, plus payung, sepatu boot, jas hujan, dobel jaket... Allahumma shayyiban naafi'an..... Smoga hujan ini membawa manfaat. Termasuk hadiah istimewa untuk langkah kaki yang menapaki bumi yang basah dengan penuh syukur..
Brunswick, menjelang duedate JAPS paper
Saturday, 26 November 2011
Great person are around... So inspiring
Bertemu dengan orang-orang hebat
Menebar ilmu dan manfaat
Subhanallah....
Menebar ilmu dan manfaat
Subhanallah....
Tuesday, 1 November 2011
Creep in plastic packaging
Plastic packaging often have to withstand load over long period of time. Therefore, it is required to investigate creep behaviour of material, i.e the time dependent deformation.
Wednesday, 26 October 2011
Saat anak mulai membantah
Pagi hari
Ummi: Kakak, mandi dulu, sudah jam 7.30!
Kakak: Aku mandinya nanti sore aja mi, pulang sekolah
Sorenya
U: Kakak, ayo mandi, udah mau sholat maghrib
K: Besok aja ya mi, dingin......
Akhir-akhir ini, beberapa kali kakak tidak menuruti apa yang ummi minta. Jawaban yang sering muncul adalah, later atau after atau ntar.......
Kadang ummi jadi emosi, mengulang perintah itu dengan keras. Ujung-ujungnya si kakak malah menangis, ummi, why did you shout at me?
Astaghfirullah, maafkan ummi nak. Ya Allah, nyuwun kesabaran......
Ternyata, ada beberapa sumber yang mengatakan adanya perubahan perilaku anak saat memasuki usia 8 tahun. Mereka sedang berkembang memasuki tahap tujuh tahun kedua, saat anak mulai beranjak remaja. Saat usia ini, mereka sedang menunjukkan identitas diri, mulai merasa terkekang dengan aturan orang tua karena merasa aku sudah 'dewasa'.
Saat memasuki tahap ini, one way communication sudah tidak berlaku lagi. Mereka harus diperlakukan secara lebih dewasa dengan mengajak lebih banyak diskusi. Istilahnya, tarik ulur, ada saat mereka dimintai pendapat, namun ada saatnya orang tua memberi batas.
So, next action for tomorrow, tanyakan kapan dia mau mandi, pagi atau sore**, jam berapa. Kasih konsekuensi jika dia tidak segera mandi saat waktunya tiba. Misal: jam 8 malem baru mandi, pas maghrib, siapin sikat gigi sendiri, ketinggalan jamaah maghrib. Kalo ga mandi, besok pagi bangun jam 6 untuk mandi (hiks, selain masih gelap, dingin banget).
Ummi harus sabar, tidak boleh berkata keras atau marah. Kalau kakak ga mau, ummi diam aja. Kasih dia kepercayaan, Insha Allah pasti bisa
Catatan:
** Gaya mandi orang bule: sekali sehari, selain irit air, juga dingin banget....
Ummi: Kakak, mandi dulu, sudah jam 7.30!
Kakak: Aku mandinya nanti sore aja mi, pulang sekolah
Sorenya
U: Kakak, ayo mandi, udah mau sholat maghrib
K: Besok aja ya mi, dingin......
Akhir-akhir ini, beberapa kali kakak tidak menuruti apa yang ummi minta. Jawaban yang sering muncul adalah, later atau after atau ntar.......
Kadang ummi jadi emosi, mengulang perintah itu dengan keras. Ujung-ujungnya si kakak malah menangis, ummi, why did you shout at me?
Astaghfirullah, maafkan ummi nak. Ya Allah, nyuwun kesabaran......
Ternyata, ada beberapa sumber yang mengatakan adanya perubahan perilaku anak saat memasuki usia 8 tahun. Mereka sedang berkembang memasuki tahap tujuh tahun kedua, saat anak mulai beranjak remaja. Saat usia ini, mereka sedang menunjukkan identitas diri, mulai merasa terkekang dengan aturan orang tua karena merasa aku sudah 'dewasa'.
Saat memasuki tahap ini, one way communication sudah tidak berlaku lagi. Mereka harus diperlakukan secara lebih dewasa dengan mengajak lebih banyak diskusi. Istilahnya, tarik ulur, ada saat mereka dimintai pendapat, namun ada saatnya orang tua memberi batas.
So, next action for tomorrow, tanyakan kapan dia mau mandi, pagi atau sore**, jam berapa. Kasih konsekuensi jika dia tidak segera mandi saat waktunya tiba. Misal: jam 8 malem baru mandi, pas maghrib, siapin sikat gigi sendiri, ketinggalan jamaah maghrib. Kalo ga mandi, besok pagi bangun jam 6 untuk mandi (hiks, selain masih gelap, dingin banget).
Ummi harus sabar, tidak boleh berkata keras atau marah. Kalau kakak ga mau, ummi diam aja. Kasih dia kepercayaan, Insha Allah pasti bisa
Catatan:
** Gaya mandi orang bule: sekali sehari, selain irit air, juga dingin banget....
Saturday, 8 October 2011
Belajar saat sakit (part 2)
Alhamdulillah, Shofiya mulai menjalani hari-hari dengan plaster di lengannya. Dia mulai belajar menggunakan tangan kirinya untuk beraktivitas, termasuk makan.
Saat makan bersama sore tadi,
Shofiya (S) : Mum, I dont like to have broken arm.
Mum (M) : Ya sayang, kadang Allah memberikan apa yang tidak kita sukai, padahal itu yang paling baik untuk kita
S : Why Allah give me this?
M : (tercekat), because Allah loves us, darling
Aku terdiam cukup lama, memikirkan jawaban yang mungkin sangat absurd untuk otak 5 tahunnya, bagaimana menerjemahkan konsep cinta dalam kesakitan. Aku sendiri belum menemukan jawaban yang tepat untuk aku mengerti sendiri.
Nasihat seorang sahabat mengingatkanku untuk menjadikan sakit ini sebagai tempaan kesabaran, seperti kisah dakwah awal Rasulullah yang penuh luka dan cacian.
Sadarkah kau nak, bahwa dengan sakitmu ini, kita sekeluarga menjadi lebih saling menyayangi. Lebih mudah bagimu menerima untuk selalu berdoa, mengakui Allah sebagai sebaik-baik penjaga. Lihatlah, nak, betapa indah silaturahim dengan saudara-saudara di kampung yang begitu jauh dari tanah air. Beruntungnya dirimu yang disayangi banyak orang. Ingatkah engkau nak, saat menyaksikan teman-temanmu yang sakit di hospital, dengan kondisimu yang jauh lebih baik. Betapa bersyukurnya atas semua nikmat yang sudah kita terima menyaksikan anak-anak yang seumur hidupnya harus bergerak di atas kursi rodanya. Kalian bisa kapan saja naik ayunan, tapi mereka mungkin harus ke park di RCH ini untuk merasakan nikmatnya berayun di atas wheel chair.
Subhanallah, terima kasih Allah untuk pelajaran saat sakit ini...... Ya Allah, jadikan kami hamba-hamba yang pandai bersyukur.....
Brunswick, mid of spring 2011
Saat makan bersama sore tadi,
Shofiya (S) : Mum, I dont like to have broken arm.
Mum (M) : Ya sayang, kadang Allah memberikan apa yang tidak kita sukai, padahal itu yang paling baik untuk kita
S : Why Allah give me this?
M : (tercekat), because Allah loves us, darling
Aku terdiam cukup lama, memikirkan jawaban yang mungkin sangat absurd untuk otak 5 tahunnya, bagaimana menerjemahkan konsep cinta dalam kesakitan. Aku sendiri belum menemukan jawaban yang tepat untuk aku mengerti sendiri.
Nasihat seorang sahabat mengingatkanku untuk menjadikan sakit ini sebagai tempaan kesabaran, seperti kisah dakwah awal Rasulullah yang penuh luka dan cacian.
Sadarkah kau nak, bahwa dengan sakitmu ini, kita sekeluarga menjadi lebih saling menyayangi. Lebih mudah bagimu menerima untuk selalu berdoa, mengakui Allah sebagai sebaik-baik penjaga. Lihatlah, nak, betapa indah silaturahim dengan saudara-saudara di kampung yang begitu jauh dari tanah air. Beruntungnya dirimu yang disayangi banyak orang. Ingatkah engkau nak, saat menyaksikan teman-temanmu yang sakit di hospital, dengan kondisimu yang jauh lebih baik. Betapa bersyukurnya atas semua nikmat yang sudah kita terima menyaksikan anak-anak yang seumur hidupnya harus bergerak di atas kursi rodanya. Kalian bisa kapan saja naik ayunan, tapi mereka mungkin harus ke park di RCH ini untuk merasakan nikmatnya berayun di atas wheel chair.
Allah pasti kasih adik hadiah yang menyenangkan
karena adik berani dan sabar. Di akhirat, tangan adik yang broken ini akan
bersaksi, Ya Allah, tangan ini pernah terluka tapi pemiliknya selalu
beristighfar saat terasa sakit. Adik, Insha Allah tangan ini yang mengantarkan
adik ke surga. Shofiya sudah mulai senyum-senyum trus nanya, di surga ada
banyak mainan ya? Ada jumping castle? Ada ayunan?
Subhanallah, terima kasih Allah untuk pelajaran saat sakit ini...... Ya Allah, jadikan kami hamba-hamba yang pandai bersyukur.....
Brunswick, mid of spring 2011
Wednesday, 5 October 2011
You are very brave
Kalimat itu hampir selalu dikatakan siapapun yang sedang merawat Shofiya, dari Senin sampai Rabu kemarin. Mulai dari seorang dokter yang kebetulan anaknya adalah teman Shofiya di sekolah, petugas dari ambulance, nurse di triage-emergency area, di X-Ray, dokter di operation room, di recovery room dan di ward. Dan itu disampaikan berulang-ulang. Bahkan, nurse di recovery room memberikan award for bravery in hospital. Sebenarnya sederhana saja, print di A4, hitam putih, dihiasi stiker dora.
Senin kemarin, gadis kecil saya jatuh di sekolahnya. Lengannya patah. Alhamdulillah, malamnya langsung dioperasi dan Rabu kemarin sudah kembali berkumpul di rumah. Tadi malam dia bilang, my parents really proud of me, because I am so brave.
Di tengah rasa sakit yang saat ini dirasakannya, Alhamdulillah dia menyimpan kenangan bahwa dia seorang pemberani. Kembang kempis hidungnya saat dia mendengar, “adik hebat, persis kayak aunty Shofiya yang pemberani”.
Subscribe to:
Posts (Atom)